Rabu, 20 Mei 2020

Meski Corona, Bulog Tetap Targetkan Penjualan Rp 32 Triliun di 2020

KONTAK PERKASA FUTURES - Wabah virus corona (Covid-19) yang masuk sejak awal Maret 2020 kini telah menggulingkan banyak kegiatan usaha. Namun demikian, ada beberapa sektor usaha yang tetap dapat bertahan di tengah pandemi ini bahkan permintaannya meningkat, salah satunya Perum Bulog.
Mengacu pada kondisi tersebut, tak sedikit badan usaha penyedia bahan pangan yang tetap mematok target tinggi saat krisis corona. Seperti dilakukan Perum Bulog, yang berambisi meraih angka penjualan Rp 32 triliun pada tahun ini.
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan, angka pencapaian sales tersebut sebenarnya telah turun dibanding target awal. Pihaknya pun memproyeksikan bisa memperoleh angka penjualan sekitar Rp 16 triliun pada semester pertama 2020.
"Target kami tahun ini hampir Rp 32 triliun, awalnya Rp 38 triliun sales kita. Mudah-mudahan pada semester I ini kita bisa mencapai 50 persen," jelas Tri dalam sesi bincang-bincang bersama Antara, Rabu (20/5/2020).
Tri menganggap patokan tersebut cukup realistis, lantaran sejauh ini pencapaian sales Bulogterhitung cukup lumayan. Dia melihat Bulog tetap diberi keberkahan di tengah kesulitan akibat wabah Covid-19 saat ini.
"Alhamdulillah, meskipun perlu tantangan yang luar biasa, perubahan cepat dari sisi manajemen, kesiapan infrastruktur, dan sumber daya. Saya kira ini beberapa hal yang cukup menarik dari bisnis pangan," papar dia.
Secara perhitungan, Tri menyampaikan, kegiatan bisnis Perum Bulog saat ini mayoritas ditopang oleh penyaluran beras yang mencapai 83 persen.
"Kalau kita lihat, yang paling banyak itu 83 persen dari beras, kemudian gula, minyak goreng, tepung, dan komoditi lainnya. Banyak kementerian/lembaga yang banyak memberikan bantuan sosial (dalam bentuk beras)," ujar Tri.
BACA JUGA : 

Rupiah Menguat Efek Ekonomi Global Mulai Menggeliat

Senin, 18 Mei 2020

[New post] Rupiah Menguat ke 14.805 per Dolar AS, Seiring Kabar Penemuan Vaksin Corona

perkasafuturesbpp posted: " PT KONTAK PERKASA FUTURES - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Selasa pekan ini. Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 14.750 per dolar AS hingga 15.000 per dolar AS. Mengutip Bloomberg, Selasa "

Bank Indonesia Masih Punya Peluang Turunkan Bunga Acuan hingga 50 Bps

PT KONTAK PERKASA FUTURES -  Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sebut Bank Indonesia (BI) masih punya cukup ruang untuk menurunkan suku bunga hingga 50 basis point (bps).
Namun demikian, menurut Direktur Utama LIPPI, Mirza Adityaswara, BI hanya mau menurunkan suku bunga jika positive real policy rate terjaga, atau positif.
"BI kalau mau nurunin bunga, pasti lihat masih punya positive real policy rate apa tidak. Positive real policy rate itu adalah antara BI rate dengan inflasi, karena kalau nggak positif maka dianggap bahwa menanamkan uang di Rupiah itu menjadi kurang benefit karena termakan oleh inflasi," jelasnya, Selasa (19/5/2020).
Sehingga, lanjutnya, jika saat ini BI rate-nya adalah 4,5 persen, sementara inflasi ada di kisaran 2,5 sampai 3 persen, dan jika ekoniomi masih terus melambat, masih ada positive real policy rate sebesar 1,5 persen, dan BI bisa memanfaatkannya untuk menurunkan bunga.
"Kami melihat sekarang dengan positive real policy rate masih ada 1,5 persen, dan mungkin BImasih punya ruang untuk menurunkan bunga 50 basis poin. Tapi apakah akan digunakan ruang itu sekarang, atau akan digunakan nanti bulan Juni atau Juli setelah angka kuartal II PDB keluar," kata Mirza dalam webinar LIPPI.
Sebelumnya, BI telah menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis point (bps) menjadi 4,5 persen dari sebelumnya yakni 4,75 persen.
Hal tersebut sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global sehubungan dengan terjadinya Covid-19.
BACA JUGA : 

Inggris Latih Anjing Pendeteksi Kanker untuk Indentifikasi Virus Corona COVID-19

[New post] Stok Minyak Dunia Melimpah, Harga Sewa Kapal Tanker Melonjak

perkasafuturesbpp posted: " PT KONTAK PERAKSA - Terjadinya wabah COVID-19 telah meningkatkan potensi kemungkinan pencapaian target PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL). Wabah tersebut telah menghentikan sebagian besar ekonomi global dan sangat membatasi mobilitas penduduk dan barang d"

Rupiah Berpeluang Menguat Didorong Pelonggaran Lockdown Sejumlah Negara

PT KONTAK PERKASA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan awal pekan ini. Namun demikian, rupiah masih punya peluang untuk kembali menguat.
Mengutip Bloomberg, Senin (18/5/2020), rupiah dibuka di angka 14.855 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.860 per dolar AS. Namun menjelang siang, rupiah terkoreksi dengan bergerak melemah ke 14.862 per dolar AS.
Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.855 per dolar AS hingga 14.875 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 7,19 persen.
Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.909 per dolar AS, melemah jika dibandingkan sebelumnya yang ada di angka 14.885 per dolar AS.
Namun demikian, nilai tukar rupiah pada awal pekan ini masih berpeluang menguat seiring dengan pelonggaran lockdown di sejumlah negara.
Dikutip dari Antara, Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, sentimen positif terlihat kembali masuk ke pasar keuangan pagi ini.
"Pasar menyikapi positifhttp://kontak-perkasaf.com/profil-perusahaan/ lockdown yang dibuka di beberapa negara seperti di kawasan Eropa, sebagian AS, China, Korsel, Hong Kong, Vietnam, dan lain-lain, seiring dengan berkurangnya jumlah kematian dan jumlah kasus positif di negara pandemi tersebut," ujar Ariston.
Sentimen positif itu, lanjut Ariston, bisa membantu penguatan rupiah hari ini ke kisaran Rp14.800 per dolar AS hingga Rp14.750 per dolar AS.
Penguatan rupiah terhadap dolar AS juga terbantu oleh stimulus besar yang dikeluarkan oleh Bank Sentral AS The Fed untuk memperbesar likuiditas dolar di pasar. The Fed kurang lebih sudah mengeluarkan 2 triliun dolar AS untuk pembelian obligasi.
Namun demikian, Ariston menilai pasar masih mewaspadai potensi gelombang kedua pandemi pasca pelonggaran lockdown dan memburuknya data-data ekonomi karena wabah yang bisa menekan kembali sentimen positif.
Ariston memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp14.750 per dolar AS hingga Rp15.000 per dolar AS.
Pada Jumat (15/5) lalu, rupiah ditutup menguat 25 poin atau 0,17 persen menjadi Rp14.860 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.885 per dolar AS.
BACA JUGA : 

Jumat, 15 Mei 2020

[New post] Dibuka Menguat, Rupiah Malah Tertekan Jelang Siang

perkasafuturesbpp posted: " PT KONTAK PERKASA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat pekan ini. Mengutip Bloomberg, Jumat (15/5/2020), rupiah dibuka di angka 14.875 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagan"

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 5.787 Triliun di Kuartal I-2020

PT KONTAK PERKASA - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai USD 389,3 miliar (Rp 5.787 triliun) pada akhir kuarta I 2020. Utang ini terdiri dari sektor publik (Pemerintah dan bank sentral) sebesar USD 183,8 miliar dan swasta (termasuk BUMN) sebesar USD 205,5 miliar. 
ULN Indonesia tersebut turun tumbuh 0,5 persen (yoy), dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 7,8 persen (yoy). "Perkembangan tersebut disebabkan oleh penurunan ULN publik dan perlambatan pertumbuhan ULN swasta," mengutip keterangan BI, Jumat (15/5/2020).
Adapun posisi utang luar negeri pemerintah pada akhir kuartal I 2020 tercatat sebesar USD 181,0 miliar atau terkontraksi -3,6 persen (yoy), berbalik dari kondisi kuartal sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,1% (yoy).
Penurunan posisi ULN Pemerintah tersebut antara lain dipengaruhi oleh arus modal keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pembayaran SBN yang telah jatuh tempo.
Pengelolaan ULN Pemerintah dilakukan secara hati-hati dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas pada sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Sektor produktif tersebut mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,1 persen dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,3 persen), sektor jasa pendidikan (16 persen), sektor jasa keuangan dan asuransi (13,3 persen), serta sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,5 persen).
Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.
"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," menurut keterangan BI.
ULN swasta pada akhir kuartal I 2020 tumbuh 4,5 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kuartalsebelumnya sebesar 6,6 persen (yoy).
Perkembangan ini disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan dan melambatnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan.
Pada akhir triwulan I 2020, ULN lembaga keuangan terkontraksi -2,3 persen (yoy), berbalik arah dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 3,6 persen (yoy).
ULN perusahaan bukan lembaga keuangan juga tumbuh melambat dari 7,6 persen (yoy) pada triwulan IV 2019 menjadi 6,7 persen (yoy) pada kuartal I 2020.
Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, yakni mencapai 77,7 persen dari total ULN swasta, adalah sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara dingin (LGA), sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor industri pengolahan.
Struktur ULN Indonesia dinilai tetap sehat, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.
Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal I 2020 sebesar 34,5 persen, turun dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya sebesar 36,2 persen.
Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,4 persen dari total ULN.

BACA JUGA : 

Imbas Corona, Ekspor April 2020 Turun 13,33 Persen